Lembaga antariksa AS, NASA, menantang para insinyur top di dunia dirgantara untuk memecahkan masalah yang paling sulit dalam penerbangan komersial.
Tantangan itu adalah bagaimana bagaimana membuat pesawat yang lebih ramah lingkungan, bersuara lebih hening, dan menggunakan lebih sedikit bahan bakar.
Hasilnya beragam desain pesawat yang unik. Berikut ini tiga rancangan jet udara dari pabrikan yang berada di AS, seperti diungkap situs ilmu pengetahuan Popular Science (www.popsci.com)
Box Wing Jet dari Lockheed Martin
Umumnya jet penumpang boros bahan bakar minyak. Sebuah Boeing 747, misalnya, menghabiskan 5 galon untuk setiap mil laut perjalanan. Seiring naiknya harga minyak, tarif pun terpaksa ikut naik.
Umumnya jet penumpang boros bahan bakar minyak. Sebuah Boeing 747, misalnya, menghabiskan 5 galon untuk setiap mil laut perjalanan. Seiring naiknya harga minyak, tarif pun terpaksa ikut naik.
Para insinyur di Lockheed Martin pun mengembangkan Box Wing. Rancangan ini dianggap sebagai cara baru untuk menghemat bahan bakar tanpa meninggalkan bentuk dasar dari pesawat saat ini.
Dibuat dengan mengadaptasi bahan ringan ditemukan di jet tempur F-22 dan F-35, mereka merancang konfigurasi sayap melingkar yang mampu meningkatkan rasio gaya angkat terhadap gaya tarik hingga 16%.
Hal ini memungkinkan pesawat untuk terbang lebih jauh menggunakan lebihsedikit bahan bakar, sementara ukuran pesawat juga masih pas dengan gerbang bandara.
Desainer merancang ulang mesin sehingga lebih efisien. Berbagai perubahan ini diklaim mampu mengurangi konsumsi bahan bakar, mengurangi kebisingan hingga 35 desibel, serta memperpendek jarak pendaratan. Pesawat ini diharapkan siap pada 2025 mendatang.
Supersonic Green Machine dari Lockheed Martin
Era pertama sistem transportasi supersonik berakhir pada November 2003 bersamaan dengan p
enerbangan terakhir Concorde. Pesawat hidung lancip buatan Prancis itu dianggap sebagai pesawat yang bising, boros, dan menghasilkan polusi besar.
Akan tetapi, impian mengenai penerbangan supercepat tetap ada. Pada 2010, desainer di Lockheed Martin mempresentasikan Supersonic Green Machine yang mampu melaju hingga Mach 1,6 atau 1,6 kali kecepatan suara.
Mesin jet dengan teknologi variabel-siklus diklaim meningkatkan efisiensi karena dapat beralih ke mode turbofan konvensional saat lepas landas dan mendarat. Pembakaran yang ditempatkan dalam mesin mampu menekan polusi nitrogen oksida hingga 75%.
Sementara itu, ekor dengan desain V terbalik dan penempatan mesin di bawah sayap akan menghilangkan ledakan suara (sonic booms) yang telah menyebabkan larangan penerbangan Concorde. Pesawat ini diharapkan mengudara pada 2030.
Sugar Volt dari Boeing
Cara terbaik untuk menghemat bahan bakar jet adalah dengan mematikan mesin gas. Namun hal itu hanya mungkin bila ada sumber daya alternatif, seperti baterai dan motor listrik pada pesawat hybrid Boeing Gula Volt.
Para insinyur Boeing telah mendesain ulang sayap. “Sayap lebih tipis dan rentang lebih lebar menghasilkan gaya angkat lebih banyak dengan drag berkurang,” kata Marty Bradley, peneliti utama Boeing pada proyek itu seperti dikutip Popular Science.
Pesawat yang seukuran dengan Boeing 737 ini memiliki jarak tempuh hingga 3.500 mil laut. Pada saat lepas landas, pesawat akan menggunakan mesin jet dan baterai. Akan tetapi ketika berada di ketinggian jelajah, pilot bisa beralih ke mode-listrik.
Sayap ukuran besar itu dapat dilipat sehingga pilot bisa mengakses gerbang bandara standar. Pesawat diharapkan tersedia pada 2035.
Sumber : http://www.kabar24.com/
0 Komentar:
Posting Komentar
jangan lupa komen ya....
karana komen sangat berguna untuk kemajuan blog kami...
Atsa perhatiannya Terimakasih....