Penguasa
di masa lalu hanya menitikberatkan penyebab kerusakan dan kebakaran
hutan kepada masyarakat seperti peladang berpindah, penebang liar atau
perambah hutan dan perkebunan. Namun dampak kerusakan lingkungan yang
lebih dahsyat dari penebangan pengusaha HPH sama sekali nyaris tak
terdengar. Selalu saja yang menjadi kambing hitam adalah masyarakat
miskin, peladang berpindah atau penebang liar. IMPAS-B merasa
berkewajiban menyampaikan suara-suara dari sisi pedalaman karena mereka
secara langsung adalah keluarga atau anak cucu peladang berpindah.
Tuduhan
tersebut adalah sangat tidak adil, masyarakat keberatan jika kebakaran
hutan adalah akibat kebodohan dan ketidakmauan masyarakat mengikuti
petunjuk pemerintah seperti pelarangan penebangan hutan dan berladang
berpindah, karena pekerjaan itu telah beratus ratus tahun sudah ada
tetapi mengapa baru sekarang timbul dampaknya dan menjadi permasalahan.
Tanpa bermaksud apapun tulisan ini berdasarkan penelitian dan pengalaman
tentang apa yang IMPAS-B lihat dan IMPAS-B rasakan. Sejak tahun 2005
IMPAS-B telah menapakkan kaki di belantara terutama di wilayah Kabupaten
Banjar Kalimantan Selatan tepatnya di perbukitan sekitar Paramasan,
sungai pinang sampai daerah Riam Kanan dengan kekayaan ”Hutan Tropis
Kahung”
Penyebab Rusaknya Hutan di Kasel
Ladang Berpindah
Sebagaimana
kita maklumi di daerah Kalimantan Selatan kualitas sumberdaya lahan dan
tanah untuk pertanian di perbukitan sangat kurang, sehingga apabila
sudah ditanami dua sampai tiga kali terulang lahan tersebut tidak
potensial lagi, ditambah dengan teknologi pertanian yang sangat
tradisional. Karena itulah masyarakat yang dipimpin Kepala Padang
(Kepala Ladang) membuka hutan lagi untuk lahan pertanian baru demi
kelangsungan hidup mereka.
Proses
tradisional ini sudah berlangsung ratusan tahun atau semenjak manusia
Kalimantan mulai berbudaya hingga sekarang ini. Sepengetahuan IMPAS-B
hingga penghujung tahun 80-an tidak ada dampak negatif dari aktivitas
ladang berpindah karena sewaktu pembakaran lahan masyarakat selalu siap
di sekeliling tepian hutan (dalam arti jangan sampai hutan ikut
terbakar).
Berladang
bagi masyarakat Dayak Kalimantan (penghuni hutan) hanya sekadar untuk
mencukupi keperluan pangan saja, tidak sebagai usaha komersial, dan
mereka mencukupi kebutuhan lainnya dengan mengambil apa saja yang
bernilai ekonomis yang ada di hutan. Peladang berpindah selalu membuka
hutan baru berdasarkan perkiraan musim atau iklim. Menurut pengamatan
dan berdasarkan kemanusiaan yang adil dan beradab masyarakat Dayak
Kalimantan yang menghuni hutan, berladang bagi mereka adalah keharusan
alami.
Bekas
ladang di tepian hutan yang ditumbuhi rumput dan tanaman muda merupakan
lahan santapan yang sangat diperlukan marga satwa penghuni rimba raya
sehingga menjadikan kawasan ini sebagai ekosistem yang sangat harmonis.
Terlihat adanya ketergantungan antara manusia, tumbuhan dan hewan. Flora
menghidupkan fauna dan fauna menebarluaskan flora.
Ladang
berpindah sebenarnya tidak merusak lingkungan yang berarti walaupun ada
tetapi tidak sebagai penyebab utama kerusakan hutan, karena sewaktu
membakar lahan selalu dijaga dan secara emosional mereka memiliki
kearifan ekologis terhadap lingkungan sebagai tempat mencari
penghidupan.
Penebang Liar
Di
masa orde lama istilah “penebang liar” tidak pernah dikenal khususnya
di daerah Paramasan Bawah. Kalau masyarakat penghuni kawasan hutan
berladang untuk mencukupi keperluan pangan beras, maka untuk keperluan
hidup lainnya mereka memanfaatkan sumberdaya hutan lainnya.
Sebelum
negeri ini merdeka masyarakat sudah mengenal dan memanfaatkan hasil
hutan dengan menebang secara manual atau cara tradisional. Perdagangan
hasil hutan berupa kayu saat itu dilakukan secara barter dalam skala
lokal. Kayu sebagai bahan bangunan rumah tinggal hanya kulitnya saja
yang dapat mereka ambil karena minimnya teknologi dan keterampilan
mereka masa itu.
Masyarakat
dengan cara manual tidak mampu mengambil kayu yang jaraknya melebihi
500 m dari anak sungai apalagi kalau sudah dibatasi bukit. Berdasarkan
data yang ada sejak tahun 1980 tidak pernah terjadi dampak negatif dari
aktivitas pemanfaatan hutan oleh masyarakat di hutan Kalimantan yang
mengganggu lingkungan hidup baik kehidupan flora, fauna dan bagi
masyarakat. Begitu pula tentang kebakaran hutan dan kabut asap hingga
tahun 1980 belum pernah menyaksikan langsung atau mendengar ceritanya.
Penebangan Oleh Pemilik HPH
Sejujurnya,
apa saja yang kita lakukan terhadap hutan baik ladang berpindah,
perambah hutan, penebang liar, lahan perkebunan, produksi bahan bangunan
seperti balok-balok ulin dan siap dan ekploitasi hutan oleh pemilik HPH
kesemuanya itu akan mengganggu ekosistem dan merusak habitat hutan.
Perbedaannya terletak pada besar-kecilnya kerusakan yang ditimbulkan
akibat permanfaatan hutan.
Kondisi
hutan pasca eksploitasi oleh pemilik HPH, di pulau Kalimantan khususnya
di Kabupaten Banjar, memiliki struktur yang utuh, rapat, padat dan
berpotensi besar. Hutan yang indah, cantik nan serasi ini menurut
pengamatan kami memerlukan waktu ribuan tahun untuk pemantapannya.
Beberapa
jenis kayu hidup bergantian hingga menjadi satu kesatuan hutan yang
saling melindungi. Di dalam hutan kalau kita membaca lingkungannya
secara arif seakan-akan suatu perpaduan yang harmonis, saling bantu
dalam masing-masing pertumbuhannya. Kehidupan suatu jenis tumbuhan
seperti telah diatur untuk membantu kelangsungan hidup yang lain.
Hutan
yang masih utuh perawan sangat indah, kokoh menakjubkan. Daun, ranting
dan dahan rapat menjaga sinar matahari agar tidak tembus leluasa ke
bawah pohon. Kerapatan daun fungsinya sangat besar yaitu melindungi
kawasan semak dan belukar di bawahnya agar dedaunan yang membusuk
menjadi humus dan menyerap air sebagai persediaan air hujan jika musim
kemarau tiba. Perilaku hutan ini juga merupakan upaya hutan secara alami
melindungi dirinya dari bahaya kebakaran.
Hingga
penghujung tahun 1960 hutan di kawasan Kabupaten Banjar masih
dikategorikan kokoh padat walaupun ada eksploitasi masyarakat secara
manual. Di awal tahun 1970 pemilik HPH dalam hal ini PT. KODECO mulai
memasukkan alat-alat ke kawasan hutan untuk mengeksploitasi hutan.
Peralatan yang handal ini dalam waktu singkat mengakibatkan hutan lumpuh
berantakan, istilah hutan gundul mulai dikenal masyarakat.
Berikut
ini coba kita bandingkan antara aktivitas peladang berpindah, penebang
liar dan eksploitasi HPH dengan alat beratnya. Peladang berpindah hanya
berlokasi sekitar pemukiman penduduk dan sekadar mencukupi keperluan
hidupnya sehari-hari. Tebangan liar hanya berlokasi pada sekitar daerah
aliran sungai (DAS) karena hanya mengandalkan tenaga manusia dan siklus
alami. Sedangkan eksploitasi pemilik HPH dengan peralatan berat dan
modern mampu menjangkau lokasi dan kawasan hutan mana saja yang mereka
inginkan.
Kita
tidak merinci berapa juta pohon yang sudah dibabat dan berapa meter
kubik volumenya selama lebih 30 tahun. Kitapun tidak mengungkap
bagaimana kejahatan KKN di instansi kehutanan, perilaku tidak bijak
dalam mengelola hutan atau manipulasi data dan dokumen di mana terdapat
kayu yang tidak memiliki dokumen resmi atau dokumen kayu yang volumenya
2.000 m3 bisa melindungi kayu yang volumenya 10.000 m3?.
Kekhawatiran
kita terfokus pada perubahan perilaku alam jika kawasan hutan lumpuh
tidak berfungsi sebagaimana mestinya karena ketidakmampuan hutan yang
telah dibabat untuk pulih kembali atau tidak ada upaya mengembalikan
fungsi hutan dengan rehabilitasi dan reboisasi (yang sebenarnya, bukan
di atas atau laporan ketika ada kunjungan pejabat pusat) saja. Jika
hutan tidak mampu lagi menyimpan air, menjaga kelembabannya di musim
kemarau agar tidak terbakar dan sebagai daerah penyangga luapan air di
musim hujan di mana air menumpuk di kawasan hulu sungai daerah pasang
surut.
Dampak Terjadinya Kerusakan Hutan di Kalsel
Hutan
perawan sebagaimana di uraikan di atas dengan kerapatan utuh 100 persen
maka sinar matahari tidak dapat menembus ke bawah sehingga daun-daun
lapuk selalu basah walau di musim kemarau sekalipun sehingga tidak mudah
dilalap api. Jika hutan itu terbuka dalam hamparan yang luas seperti
pasca eksploitasi HPH, dengan kerapatan dibawah 50 persen maka akan
mudah terbakar. Akibatnya dedaunan busuk dengan humus yang tebal,
ranting dan dahan yang kering lekang sehingga dengan pemantik kecil saja
kawasan ini segera terbakar.
Keadaan
hutan yang sudah longgar, pohon-pohon besar dan kecil ditebang dan
tidak ada regenerasi berdampak pada perairan terutama anak-anak sungai
akan banjir besar dan menerima debit air yang melebihi kapasitas normal.
Sungai yang dahulunya tidak bisa meluap dan begitu bersahabat sekarang
sebaliknya, seperti banjir di Martapura, Kabupaten Banjar tahun 2006.
Sedangkan di musim kemarau persediaan air sangat kurang.
Fakta
di atas menunjukkan bahwa kawasan hutan bukit dan pegunungan di
Kalimantan sudah kurang fungsinya sebagai penahan air agar secara
perlahan-lahan mengalir ke muara sungai. Yang kita khawatirkan jika
musim hujan tiba dengan curah hujan sangat tinggi yang merupakan siklus
sepuluh tahunan maka air akan tertumpuk di daerah muara tepatnya di
daerah Banjarmasin dan Barito Kuala. Genangan air ini bisa bertahan lama
1 sampai 2 minggu atau lebih karena arus air ke muara tertahan pasang
surut sedang kiriman air dari hulu sungai martapura terus berlangsung
apalagi di muara juga terjadi hujan.
Analisis
ini di tahun-tahun mendatang jika benar terjadi berakibat pengungsian
penduduk secara massal, karena usaha penduduk mati total di saat banjir.
Lahan sawah, kebun dengan segala infrastrukturnya tergenang dalam waktu
cukup lama. Kawasan rawa yang kami maksud sebagai tempat menumpuknya
air kiriman dari pegunungan sebenarnya bukan hanya di selatan Kabupaten
Banjar, Kota Banjarmasin dan Kabupaten Barito Kuala, tetapi akan terjadi
di seluruh kawasan rawa yang diapit pegunungan Muller, Schawanner, dan
pegunungan Meratus. Kawasan ini adalah kawasan persawahan pasang surut
dan pemukiman penduduk.
Dampak
bagi daerah selatan atau kawasan pasang surut seperti Kota Banjarmasin
dan sekitarnya, air pasang akan bertambah tinggi bisa menjangkau naik ke
dalam rumah penduduk dan menggenangi jalan-jalan raya. Apalagi jika
kita ingat analisis seorang akademisi Unlam ketika Proyek Lahan Gambut
(PLG) Sejuta Hektar di Kalteng digulirkan yang menyatakan tunggu saja
limpahan air dari hulu akan menenggelamkan dataran yang lebih rendah
(dan sialnya Banjarmasin adalah kawasan rendah yang lebih dekat ke laut
Jawa).
Benar
atau tidaknya analisis ini seyogiyanya menyadarkan kita akan bahaya
yang mengancam berupa banjir atau genangan air besar-besaran akibat dari
rusaknya tatanan hutan, bukan bermaksud menakut-nakuti dengan
mendramatisir masalah apalagi memprovokasi tetapi lebih pada warning
bahwa penyelamatan hutan merupakan tanggung jawab kita bersama kepada
Tuhan bagi anak cucu dikemudian hari.
Air
sungai, utamanya Sungai Barito terlalu sering surut dan mengalami
penurunan fungsi sebagai alur transportasi vital. Terganggunya fauna,
terutama habitat perairan bagi ikan. Sangat susah mendapatkan be
berapa
species ikan di Sungai Barito bahkan di kawasan anak sungai.
Dengan
sedikit curah hujan bisa mendatangkan luapan sungai-sungai kecil,
kebakaran hutan dan lain-lain. Dampak negatif dari kerusakan hutan dan
lingkungan yang akan kita wariskan kepada generasi penerus, anak cucu
kita haruslah diantisipasi semaksimal mungkin.
Mempertimbangkan
ancaman yang akan datang sebagai mana analisis kami di atas maka kami
mengimbau jajaran aparat terkait dan lingkungan hidup, kehutanan,
pemegang HPH, cendekiawan, kelompok akademisi, MAPALA, KPA dan LSM serta
tokoh masyarakat Kalsel terutama pihak-pihak yang mencurahkan
perhatiannya kepada kelestarian alam, marilah kita sama-sama berdialog,
duduk bersama mencari solusi terbaik tentang tata cara mengelola
sumberdaya alam ini secara baik, arif bijak dan ramah lingkungan.
Pulau
Kalimantan dengan kawasan rawa pasang surut yang luas sangat rawan
banjir menjadi genangan yang luas jika kawasan hulu, bukit dan
pegunungan tidak mendapat perhatian serius. Save our trofical forest,
save our life. Karena betul “…bahwa hutan dan aturan yang terdapat
didalamnya adalah sekolah terbaik bagi manusia….”
Sumber: IMPAS-B
0 Komentar:
Posting Komentar
jangan lupa komen ya....
karana komen sangat berguna untuk kemajuan blog kami...
Atsa perhatiannya Terimakasih....